PALU, NARASITA – Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat tren kenaikan pada sejumlah harga pangan strategis per 21 September 2026. Komoditas seperti beras, daging sapi, gula, dan telur mengalami peningkatan harga, sementara bawang merah dan minyak goreng curah tercatat menurun. Fluktuasi ini dipicu oleh dinamika pasokan, distribusi, serta permintaan menjelang akhir bulan, dan turut dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang berdampak pada produksi hortikultura.

Data yang dihimpun PIHPS dari pedagang eceran di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa kenaikan harga pangan strategis ini berpotensi memicu inflasi.

Kenaikan harga beras terlihat pada semua jenis. Beras kualitas bawah I naik 0,68% menjadi Rp14.900/kg, medium I naik 0,3% menjadi Rp16.650/kg, dan super I naik 0,56% menjadi Rp17.950/kg.

Pada komoditas protein hewani, harga daging sapi kualitas I meningkat 0,62% menjadi Rp153.050/kg dan kualitas II naik 0,67% menjadi Rp143.750/kg. Telur ayam ras segar juga mengalami kenaikan 0,67% menjadi Rp30.050/kg.

“Harga beras, daging sapi, gula, dan telur tercatat naik, sementara bawang merah dan minyak goreng curah turun. Data PIHPS per 18 September 2026 menunjukkan tren kenaikan di komoditas utama,” kata Mutiara Nabila, Bisnis.com.

Gula pasir premium naik 0,25% menjadi Rp20.400/kg dan gula lokal naik 0,52% menjadi Rp19.200/kg. Sementara itu, harga cabai menunjukkan lonjakan signifikan, dengan cabai rawit merah naik 6,78% mencapai Rp96.100/kg, menjadi kenaikan terbesar di antara komoditas yang dipantau.

Penurunan harga terjadi pada bawang merah, yang turun 1,19% menjadi Rp37.250/kg, serta minyak goreng curah yang turun 0,24% menjadi Rp20.400/liter. Namun, minyak goreng kemasan bermerek I dan II justru menunjukkan kenaikan tipis.

Kondisi harga pangan strategis yang bergejolak ini mengindikasikan tekanan inflasi pangan yang perlu diwaspadai pemerintah daerah, khususnya di Sulawesi Tengah, untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.