MOROWALI, NARASITA — Raungan ribuan sepeda motor yang memenuhi jalan Bahodopi setiap pergantian sif bagi Fitra bukan sekadar suara bising.
Di tengah deru kendaraan pekerja kawasan industri, ia melihat peluang usaha yang terus membesar.
Fitra mulai membuka bengkel motor pertamanya di Desa Siumbatu pada 2017. Saat itu, istrinya yang menjaga bengkel, sementara Fitra masih bekerja di sektor pertambangan di Kalimantan.
Setahun kemudian, bengkel tersebut dipindahkan ke Bahodopi. Jalan di kawasan itu ketika itu belum sepenuhnya beraspal.
Setelah 14 tahun bekerja di tambang Kalimantan dan terdampak pandemi Covid-19, Fitra akhirnya memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Ia memilih fokus mengembangkan bengkel miliknya.
Keputusan itu diambil setelah melihat mayoritas pekerja di kawasan industri menggunakan sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari.
“Perubahannya cepat sekali. 2018 jalan belum beraspal, dua tahun kemudian warga membangun dengan masif, 2020 terus berkembang, dan 2026 sangat pesat,” kata Fitra.
Kini, sekitar 90 persen pelanggan bengkel Segar Jaya Berkah merupakan karyawan kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Usaha tersebut telah berkembang menjadi enam cabang dengan lebih dari 50 pekerja, mulai dari bagian administrasi hingga mekanik. Upah mekanik disebut dapat mencapai Rp8 juta per bulan.
Bahodopi berada di sisi timur Sabuk Tengah Sulawesi, di tepi Teluk Tolo, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Selama puluhan tahun, kecamatan ini relatif jauh dari perhatian nasional. Perubahan mulai terasa ketika kebijakan hilirisasi mineral mendorong pembangunan industri pengolahan di dalam negeri.
Morowali kemudian menjadi salah satu kawasan yang berkembang sebagai pusat industri berbasis nikel. Lokasinya yang berada di pesisir Teluk Tolo juga mendukung pembangunan infrastruktur pelabuhan untuk kegiatan industri.
Kawasan industri yang kemudian dikenal sebagai IMIP tumbuh di Bahodopi.
Lebih dari satu dekade kemudian, keberadaan kawasan industri tidak hanya mengubah lanskap kawasan tersebut. Pertumbuhan jumlah pekerja juga ikut membuka ruang bagi usaha masyarakat di luar kawasan industri.
Data HR Department PT IMIP menunjukkan jumlah tenaga kerja terus meningkat.
Pada 2020, jumlah pekerja tercatat 35.592 orang. Setahun kemudian menjadi 51.542 orang, lalu 68.466 orang pada 2022 dan 74.350 orang pada 2023.
Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi sekitar 83.000 orang pada 2024 dan 86.804 orang pada 2025.
Hingga September 2026, jumlah pekerja di kawasan IMIP mencapai 100.310 orang. Dari jumlah tersebut, 91.904 merupakan laki-laki dan 8.406 perempuan.
Pertumbuhan populasi pekerja tersebut ikut menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan.
Pada 2025, ketika jumlah pekerja mencapai 86.804 orang, perputaran uang di Bahodopi diperkirakan mencapai Rp499,1 miliar per bulan atau sekitar Rp6 triliun dalam setahun.
Pertumbuhan kawasan industri membuat kebutuhan sehari-hari pekerja semakin beragam. Kebutuhan tersebut tidak seluruhnya dapat dipenuhi oleh kawasan industri.
Peluang itu kemudian ditangkap warga melalui berbagai jenis usaha, mulai dari bengkel, laundry, warung makan, kios, stan minuman hingga usaha jasa lainnya.
“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang,” kata Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, Jumat (2/10/2026).
Berdasarkan riset tim SGA Department IMIP, lima jenis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang paling banyak ditemukan di Bahodopi adalah kios Pertamini sebanyak 981 unit, stan minuman 735 unit, stan makanan nonbangunan 670 unit, kios umum 648 unit, dan warung makan 591 unit.
Sebagian besar usaha tersebut masih berada pada skala mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun.
Namun, pertumbuhan jumlah usaha menunjukkan adanya ruang bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang mengikuti aktivitas ekonomi kawasan industri.
Geliat ekonomi di kawasan industri Morowali juga menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, dalam laporan Februari 2026 menyebut ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,43 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 7,79 persen.
Menurut Irfan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah ditopang antara lain oleh dominannya industri pengolahan berbasis nikel serta sektor pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah.
Dampak pertumbuhan tersebut kemudian terasa hingga ke aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri.
Peluang serupa dilihat Ayu Lestari Rahman, warga Desa Fatufia.
Di tengah kesibukan pekerja pabrik, Ayu melihat persoalan sederhana yang ternyata dapat menjadi peluang usaha: pakaian kotor.
Bersama suaminya, Ayu merintis usaha laundry BlueSea pada 2022. Modal awal mereka sekitar Rp20 juta dengan satu mesin cuci.
Mereka kemudian memanfaatkan jaringan pertemanan pekerja kawasan industri untuk mengenalkan jasa laundry tersebut.
Kini, BlueSea dapat mencuci sekitar 200 kilogram pakaian setiap hari. Pelanggannya tidak hanya pekerja kawasan industri, tetapi juga kontraktor, pedagang, dan warga sekitar.
Tarif reguler yang dikenakan Rp7.000 per kilogram. Sementara layanan kilat dipatok Rp15.000 per kilogram, dengan fasilitas antar gratis dalam radius tiga kilometer.
Dari usaha tersebut, BlueSea kini menjadi sumber pendapatan utama keluarga Ayu dengan omzet sekitar Rp35 juta per bulan.
“Semoga IMIP terus berkembang dan bisa terus menyerap tenaga kerja. Kalau karyawan sudah capek bekerja, jangan capek lagi mencuci. Bawa saja ke sini,” kata Ayu.
Di Bahodopi, cerita Fitra dan Ayu menunjukkan bahwa perubahan sebuah kawasan tidak berhenti di balik pagar industri.
Ketika jumlah pekerja bertambah dan aktivitas ekonomi meningkat, kebutuhan sehari-hari ikut menciptakan ruang baru bagi warga untuk membuka usaha.
Dari bengkel hingga laundry, peluang itu tumbuh mengikuti denyut kawasan industri.




