PALU, NARASITA — Sejumlah siswa sekolah dasar (SD) di Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Sulawesi Tengah, mulai menggunakan masker saat berada di sekolah.

Langkah itu dilakukan sebagai antisipasi terhadap asap karhutla Kota Palu yang masih memengaruhi kondisi udara dalam beberapa hari terakhir.

Pantauan pada Rabu (7/10/2026), siswa SD Negeri Kabonena dan SD Inpres Kabonena datang ke sekolah dengan mengenakan masker. Masker juga digunakan saat apel pagi, termasuk oleh sejumlah tenaga pendidik.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak kualitas udara Kota Palu mulai dirasakan dalam aktivitas sekolah.

Kepala SD Negeri Kabonena, Nurhayati, mengatakan sekolah mulai mengimbau siswa menggunakan masker sejak Selasa (6/10/2026).

Imbauan disampaikan kepada orang tua dan siswa melalui wali kelas di grup komunikasi masing-masing.

“Melihat keadaan cuaca kita di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, dipenuhi asap, SD Negeri Kabonena mengimbau wali kelas untuk menyampaikan di grup kelas masing-masing agar anak-anak memakai masker.”

Nurhayati mengatakan kondisi asap mulai terlihat semakin pekat pada Senin (5/10/2026).

Bahkan, gunung yang berada di belakang sekolah tidak lagi terlihat karena tertutup asap.

“Hari Senin kemarin itu kami melihat asap sudah mulai parah, sampai-sampai gunung di belakang sekolah itu tertutup asap sampai tidak kelihatan.”

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi pertimbangan sekolah untuk meminta siswa menggunakan masker ketika mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

SD Negeri Kabonena memiliki 196 siswa. Imbauan penggunaan masker akan tetap dilakukan selama kondisi udara belum membaik.

Sama hal yang dilakukan oleh SD Inpres Kabonena.

Kepala SD Inpres Kabonena, Mukmin, mengatakan penggunaan masker menjadi salah satu langkah sederhana sekolah untuk mengantisipasi paparan asap terhadap siswa.

“Dengan adanya penggunaan masker ini kami melihat cuaca di Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya di Kota Palu, tidak membaik bagi kesehatan kita, terutama dikarenakan penyebabnya asap-asap yang berasal dari kebakaran hutan.”

Sekolah juga telah meminta orang tua mengingatkan anak-anak membawa dan menggunakan masker saat berada di sekolah.

“Kami mengimbaukan kepada orang tua siswa bahwa anak-anak disarankan menggunakan masker, mulai dari kemarin

Kondisi udara Kota Palu sebelumnya telah mendapat perhatian dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri menyebut kualitas udara Kota Palu mengalami penurunan dalam sepekan terakhir.

Ketua Tim Layanan Publik dan Humas BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Soeharto, mengatakan konsentrasi PM10 dan PM2,5 di Kota Palu meningkat sejak 28 September 2026.

Pada 4 Oktober 2026, konsentrasi PM10 tercatat mencapai 130 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM2,5 mencapai 132 mikrogram per meter kubik.

Berdasarkan pengamatan citra satelit, peningkatan konsentrasi polutan tersebut dipengaruhi sebaran asap karhutla regional di Sulawesi Tengah.

Sebagian asap berasal dari wilayah Kabupaten Morowali dan Kabupaten Tojo Una-Una. Asap kemudian terbawa pergerakan angin di atmosfer hingga memasuki wilayah Kota Palu.