NARASITA, POSO – Sektor jasa keuangan di Sulawesi Tengah menunjukkan kinerja positif hingga Juli 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah mencatat total aset perbankan mencapai Rp92,04 triliun, tumbuh 19,55 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tengah, Bony Hardi Putra, menyampaikan bahwa perkembangan positif tersebut perlu diiringi penguatan literasi dan inklusi keuangan, perlindungan konsumen, serta pencegahan aktivitas keuangan ilegal.

Berdasarkan data per Juli 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan mencapai Rp43,15 triliun, tumbuh 11,24 persen yoy. Sementara itu, penyaluran kredit tercatat Rp67,91 triliun atau meningkat 18,06 persen yoy.

Rasio kredit terhadap DPK (loan to deposit ratio/LDR) tercatat 157,37 persen. Adapun rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 1,89 persen, membaik dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 3,30 persen.

Dari sisi kelembagaan, aset Bank Umum mencapai Rp89,35 triliun, sedangkan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) sebesar Rp2,69 triliun. Penyaluran kredit Bank Umum tercatat Rp65,60 triliun dan BPR Rp2,30 triliun.

Berdasarkan jenis layanan, aset perbankan konvensional mencapai Rp87,42 triliun, sedangkan perbankan syariah sebesar Rp4,62 triliun. Penyaluran kredit perbankan konvensional tercatat Rp63,83 triliun, sementara pembiayaan syariah mencapai Rp4,08 triliun.

OJK Sulawesi Tengah terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan serta memperkuat perlindungan konsumen. Masyarakat juga diimbau memastikan legalitas produk dan layanan keuangan serta mewaspadai tawaran investasi yang tidak wajar dan aktivitas keuangan ilegal.

Dengan pertumbuhan aset dan kredit serta membaiknya kualitas kredit, sektor perbankan di Sulawesi Tengah diharapkan terus mendukung pembiayaan usaha dan aktivitas ekonomi daerah.