Narasita – SIGI – Minggu pagi yang dingin dan tenang di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, berubah menjadi haru ketika jenazah Situr Wijaya, jurnalis sekaligus pendiri media online InSulteng.id, dimakamkan dengan penuh isak tangis dan doa. Sosok yang dikenal kritis dan berdedikasi tinggi di dunia jurnalistik ini menghembuskan napas terakhirnya secara mendadak di Jakarta Barat, meninggalkan tanya yang menggantung di benak banyak orang.

Prosesi pemakaman berlangsung khidmat. Di tengah barisan pelayat, hadir tokoh penting nasional dan daerah, Longki Djanggola, anggota Komisi II DPR RI sekaligus mantan Gubernur Sulawesi Tengah periode 2011–2021. Ia datang bukan hanya sebagai pejabat, melainkan sebagai sahabat sekaligus sosok yang mengenal baik dedikasi Situr terhadap kebebasan pers.

Duka menyelimuti sang istri, Selvianti, yang setia mendampingi hingga liang lahat terakhir, bersama putra semata wayang mereka. Di sisi lain, rekan-rekan sesama jurnalis dan kerabat dekat berkumpul dalam keheningan, menyimpan satu harapan, kejelasan tentang penyebab kematian Situr.

Situr ditemukan tak bernyawa di sebuah kamar hotel kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kabar duka ini mengejutkan banyak pihak. Hingga kini, penyebab kematian belum dapat dipastikan. Keluarga masih menunggu hasil autopsi resmi dari pihak berwenang.

Ketua PWI Peduli Sulteng, Heru, usai pemakaman, menegaskan bahwa pihak keluarga belum menunjuk kuasa hukum mana pun untuk menangani perkara ini. Ia juga membantah laporan yang sudah lebih dulu masuk ke Polda Metro Jaya oleh seseorang bernama Rogate Oktoberius Halawa, yang mengaku sebagai pengacara keluarga.

“Laporan itu tidak mewakili kami. Jika hasil autopsi menyatakan kematian karena faktor medis, maka kami akan menerima dengan lapang dada. Tapi jika ada indikasi pelanggaran hukum, maka kami siap mengawal sampai tuntas,” ujar Heru

Dalam pernyataan yang penuh empati sekaligus ketegasan, Longki Djanggola mengajak seluruh elemen pers untuk tidak tinggal diam.

“Kalau hasil autopsi menunjukkan penyebab medis, kita terima sebagai takdir. Tapi bila ditemukan unsur kekerasan atau indikasi lain, maka seluruh rekan jurnalis harus bersatu mengadvokasi,” kata Longki dengan nada tegas.

Ia juga menyinggung soal pentingnya kredibilitas dalam penunjukan kuasa hukum. “Saya sarankan agar istri almarhum memberikan kuasa kepada rekan-rekan PWI atau organisasi wartawan lainnya. Biarkan mereka yang menunjuk pengacara yang benar-benar bisa dipercaya,” tambahnya.

Tak hanya itu, Longki juga menyatakan akan mendorong Komisi III DPR RI untuk ikut memantau dan mengawasi jalannya proses hukum, jika dibutuhkan. Ia percaya, dengan keterlibatan berbagai pihak, kebenaran akan muncul dan keadilan bisa ditegakkan.

Dukungan terhadap keluarga Situr datang dari berbagai arah. Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, disebut telah turut membantu dalam proses pemulangan jenazah dari Jakarta ke Sigi. Para jurnalis lintas organisasi juga menunjukkan solidaritas yang kuat, menunjukkan bahwa dunia pers tidak hanya hidup dari berita, tapi juga dari rasa kemanusiaan yang dalam.

Kini, keluarga dan rekan-rekan Situr hanya bisa berharap dan menunggu. Menunggu hasil autopsi, menunggu kejelasan, dan menunggu hadirnya keadilan.

“Semoga semua ini segera terungkap dengan jelas dan transparan. Bersabar, kita tunggu hasil autopsi,” tutup Longki dengan penuh harap.

Situr Wijaya mungkin telah pergi, tapi suara-suara yang ia bangun semasa hidupnya tentang kebenaran, keberanian, dan integritas jurnalistik masih bergema di hati mereka yang ditinggalkan.