MOROWALI, NARASITA — Ketika sebagian besar orang masih terlelap, aktivitas di dapur Ruslan (40) justru sudah dimulai. Bersama istri dan ibu mertuanya, ia menyiapkan rempah-rempah untuk menu bubur ayam yang akan dijual pagi harinya.
Rutinitas itu telah dijalani Ruslan sejak merintis usaha Bubur Ayam Bandung Bintang 14 pada 2019 di Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Pagi bagi Ruslan bukan sekadar waktu untuk membuka warung. Dari semangkuk bubur ayam seharga Rp15.000, ia membangun usaha yang kini memiliki enam cabang di sejumlah desa di Kecamatan Bahodopi.
“Bubur ini kan ibaratnya diterima semua kalangan. Baik dari bayi, anak-anak, orang dewasa, maupun orang sakit yang sedang dalam masa pemulihan,” kata Ruslan saat ditemui di warungnya pada akhir September 2026.
Resep yang digunakan Ruslan bukan resep yang lahir dari eksperimen bisnis semata. Ia mendapatkannya secara turun-temurun dari sang ayah sebelum memutuskan meninggalkan kampung halamannya di Kabupaten Buol dan mencari peruntungan di Bahodopi.
Kini, 10 karyawan membantu menjalankan usahanya. Warung-warung tersebut beroperasi mulai pukul 07.00 hingga 12.00 Wita. Dalam sehari, omzetnya bisa mencapai Rp11 juta.
Angka itu menunjukkan bagaimana kebutuhan sederhana, seperti sarapan, dapat berkembang menjadi sumber penghidupan ketika bertemu dengan pertumbuhan kawasan industri.
Ketika industri menciptakan pasar baru
Ruslan bukan satu-satunya pelaku usaha yang melihat peluang dari pertumbuhan ekonomi di Bahodopi.
Kehadiran Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) membawa perubahan terhadap aktivitas ekonomi di kawasan sekitar. Salah satu dampaknya terlihat dari pertumbuhan jumlah tenaga kerja yang bekerja di kawasan industri tersebut.
Data HR Department PT IMIP menunjukkan jumlah tenaga kerja di kawasan itu terus meningkat. Pada 2020 tercatat 35.592 pekerja. Jumlah tersebut naik menjadi 51.542 orang pada 2021, kemudian 68.466 orang pada 2022 dan 74.350 orang pada 2023.
Pada 2024, jumlah tenaga kerja mencapai sekitar 83.000 orang. Setahun kemudian meningkat menjadi 86.804 orang.
Hingga September 2026, jumlah karyawan di Kawasan IMIP tercatat mencapai 100.310 orang, terdiri dari 91.904 pekerja laki-laki dan 8.406 pekerja perempuan.
Pertumbuhan jumlah pekerja tersebut menciptakan kebutuhan ekonomi yang berlangsung setiap hari. Makanan, tempat tinggal, transportasi, jasa laundry, bengkel, toko kelontong hingga usaha jasa lainnya menjadi bagian dari aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri.
Berdasarkan estimasi yang disampaikan dalam materi siaran pers, dengan populasi pekerja 86.804 orang pada 2025, perputaran uang di Bahodopi diperkirakan mencapai Rp499,1 miliar per bulan atau sekitar Rp5,9 triliun dalam setahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas kawasan industri tidak hanya berlangsung di dalam pagar kawasan. Sebagian kebutuhan pekerja juga dipenuhi oleh pelaku usaha yang berada di desa-desa sekitar.
Head of Media Department PT IMIP Dedy Kurniawan mengatakan pertumbuhan kawasan industri ikut mendorong perkembangan sektor usaha di Bahodopi.
“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang,” ujar Dedy, 2 September 2026.
Ia menyebut sejumlah jenis UMKM menjadi bagian dari aktivitas ekonomi tersebut. Berdasarkan riset yang disampaikan, lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi meliputi Kios Pertamini sebanyak 981 unit, stan minuman 735 unit, stan makanan nonbangunan 670 unit, kios umum 648 unit, dan warung makan 591 unit.
Sebagian besar pelaku usaha tersebut berada dalam kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun.
Nasi kuning dan pelanggan berhelm kuning
Pagi juga memiliki cerita lain di Desa Fatufia.
Menyusuri Jalan Trans Sulawesi, aroma nasi kuning menjadi salah satu penanda dimulainya aktivitas. Di sebuah warung, Nursia Asis (45), yang akrab disapa Mak Indah, menyiapkan makanan bagi pekerja yang hendak berangkat maupun mereka yang baru menyelesaikan sif malam.
Para pekerja IMIP yang datang dengan helm keselamatan berwarna kuning menjadi pelanggan yang akrab bagi Mak Indah.
Usaha nasi kuning itu telah dirintis sejak Januari 2014. Dengan harga yang terjangkau, porsi yang relatif banyak, dan rasa lauk yang dipertahankan, warung tersebut mampu menghabiskan puluhan kilogram beras setiap hari.
Omzetnya mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
Persaingan warung makan yang semakin banyak di sekitar kawasan industri tidak membuat Mak Indah berhenti berjualan. Bahkan, sebagian warung lain beroperasi hingga 24 jam.
Baginya, rezeki bukan sesuatu yang perlu diperebutkan dengan sesama pedagang.
Ia bahkan tak keberatan ketika pedagang lain meminta resep atau berbagi pengalaman mengenai cara berjualan.
Di balik aktivitas memasak dan melayani pembeli, Mak Indah menyimpan tujuan yang jauh lebih panjang: pendidikan anak-anaknya.
Ia membesarkan tiga anak yang kini tinggal di Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Anak pertamanya, Indah Mayangsari (23), merupakan lulusan Teknologi Informasi Universitas Nusa Nipa, Maumere, dengan IPK 3,65. Kini ia bekerja sebagai guru komputer sekaligus mengelola tata usaha di Kota Kupang.
Anak keduanya, Muhammad Wildan (19), menyelesaikan pendidikan arsitektur di sekolah teknik menengah di Flores dan kini menjalani pendidikan militer TNI AD di Bogor.
Sementara anak bungsunya, Muhammad Azwar Alam (12), bersekolah di pesantren setingkat SMP di Bungku, Morowali. Ia bercita-cita menjadi anggota TNI Angkatan Laut.
“Saya hidup biasa saja. Biar tetangga punya mobil atau apa, saya tidak. Yang penting anak-anak bisa sekolah tinggi, jangan kayak saya yang hanya tamatan SMK,” kata Mak Indah.
Ekonomi yang tumbuh dari kebutuhan sehari-hari
Kisah Ruslan dan Mak Indah memperlihatkan sisi lain pertumbuhan Bahodopi.
Di satu sisi, kawasan industri berkembang dengan investasi dan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Di sisi lain, kebutuhan puluhan ribu pekerja menciptakan ruang bagi usaha kecil untuk tumbuh.
Bagi pelaku usaha seperti Ruslan, yang dipertahankan bukan hanya resep keluarga. Ada pula pelayanan dan hubungan dengan pelanggan yang menjadi bagian penting dari usaha.
Sementara bagi Mak Indah, keberlangsungan usaha berkaitan langsung dengan masa depan keluarganya.
Ia berharap aktivitas ekonomi di kawasan industri tetap berjalan sehingga daya beli masyarakat dan pekerja juga terjaga.
“Saya itu intinya usahaku maju, karyawan IMIP tidak mengalami efisiensi. Kalau ada pengurangan karyawan, jelas omzet kami pengusaha warung akan minim,” ujar Mak Indah.
Pada akhirnya, cerita ekonomi Bahodopi tidak hanya dapat dilihat dari besarnya investasi atau jumlah pekerja di kawasan industri.
Ia juga terlihat dari dapur-dapur yang mulai bekerja sebelum matahari terbit, warung yang membuka pintu sejak pagi, dan semangkuk bubur atau sepiring nasi kuning yang menjadi bekal pekerja menjalani hari.
Dari sana, roda ekonomi bergerak—pelan, tetapi nyata.





