PALU, NARASITA — Universitas Tadulako (Untad) menyiapkan 650 mahasiswa untuk mendampingi pasien tuberkulosis (TB) paru dan keluarga yang menjadi kontak erat melalui Program Berani Magaya.
Program yang diinisiasi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad tersebut ditujukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien menjalani pengobatan sekaligus menekan risiko penularan TB di Sulawesi Tengah.
Program Berani Magaya dibahas dalam Rapat Koordinasi Program Pendampingan Keluarga Pasien TB Paru Berani Magaya di Ruang Rapat Rektor Untad, Senin (10/8/2026).
Pelaksanaan program melibatkan perguruan tinggi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pemerintah daerah dalam konsorsium perguruan tinggi KITA Sulteng. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung target eliminasi TB pada 2030.
Rektor Untad Prof Amar mengatakan, penanganan TB tidak cukup hanya memastikan pasien mengonsumsi obat secara teratur. Pencegahan penularan dan dukungan kepada keluarga pasien juga perlu diperkuat.
“Kita tidak boleh melihat persoalan TB hanya dari sisi pengobatan ketika seseorang sudah sakit. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mencegah risiko penularan, melindungi keluarga, dan memastikan pasien mendapatkan pendampingan sampai menyelesaikan pengobatannya,” ujar Amar.
Mahasiswa Jadi Pendamping Keluarga
Dalam program ini, mahasiswa ditempatkan sebagai family companion atau pendamping keluarga pasien TB.
Mereka bertugas memberikan edukasi, memantau kepatuhan pasien menjalani pengobatan, mengidentifikasi berbagai kendala selama proses pengobatan, serta membantu keluarga memahami langkah-langkah pencegahan penularan.
Amar menilai keterlibatan mahasiswa dapat memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat.
Menurut dia, pendampingan harus dilakukan secara humanis dan bebas stigma agar pasien tidak merasa menghadapi penyakitnya seorang diri.
“Pendampingan harus dilakukan secara humanis dan tanpa stigma,” katanya.
Dekan FKM Untad Prof Rosmala Nur mengatakan, Program Berani Magaya dirancang untuk menghubungkan pembelajaran mahasiswa dengan persoalan kesehatan masyarakat di lapangan.
“Berani Magaya kita desain bukan sekadar sebagai kegiatan lapangan mahasiswa, tetapi sebagai model kolaborasi yang menghubungkan pembelajaran di perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat,” kata Rosmala.
Selain melibatkan 650 mahasiswa semester lima, program tersebut juga didukung 100 dosen pembimbing. Para dosen akan memberikan supervisi selama mahasiswa menjalankan pendampingan di lapangan.
Terintegrasi dengan Surveilans Kesehatan
Pendampingan mencakup pemantauan kepatuhan pasien mengonsumsi obat anti-TB (OAT), pendampingan keluarga dan kontak erat, serta upaya pencegahan penularan melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Mahasiswa juga akan membantu menghasilkan data surveilans berbasis keluarga. Kegiatan tersebut diintegrasikan dengan mata kuliah Surveilans Kesehatan Masyarakat dan Teknologi Kesehatan Digital.
Sebelum turun ke lapangan, mahasiswa akan melakukan pemetaan pasien TB aktif dan kontak erat. Mereka kemudian mendapat pembekalan mengenai TB, OAT, TPT, komunikasi, etika pengelolaan data, serta penggunaan aplikasi KOBO.
Setelah pembekalan, mahasiswa melakukan kunjungan lapangan dua kali dalam sepekan. Pemantauan juga dilakukan melalui layanan pesan singkat atau WhatsApp.
Program Berani Magaya berlangsung pada Agustus hingga Desember 2026. Tahap pendampingan dan input data dimulai pada September, kemudian dilanjutkan dengan supervisi pada Oktober-November. Evaluasi akhir dan penyusunan laporan dilakukan pada Desember.
Melalui program tersebut, Untad menargetkan sedikitnya 90 persen pasien patuh menjalani pengobatan OAT dan 80 persen kontak erat patuh menjalani TPT.
Selain itu, program ini diarahkan untuk menurunkan angka Lost to Follow Up (LTFU), meningkatkan Treatment Success Rate (TSR), serta menekan potensi munculnya kasus TB baru pada kelompok kontak erat.





