JAKARTA, NARASITA – Harga cabai rawit merah di sejumlah pasar menunjukkan lonjakan signifikan hingga menembus angka Rp95.000 per kilogram per 22 September 2026. Kenaikan harga cabai rawit ini, bersama dengan telur ayam ras dan daging sapi, menjadi pemicu inflasi pangan yang menekan daya beli masyarakat.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), selain harga cabai rawit, telur ayam ras juga mencapai Rp30.000/kg, sementara daging sapi kualitas I terpantau Rp152.500/kg. Situasi ini langsung berdampak pada pengeluaran rumah tangga, khususnya untuk kebutuhan pokok harian.
Kenaikan harga cabai rawit merah yang mencapai Rp95.000/kg menjadikannya salah satu komoditas termahal saat ini. Kondisi ini berpotensi besar memicu inflasi pangan secara lebih luas, mengingat cabai adalah bumbu dapur esensial bagi mayoritas masyarakat Indonesia.
Selain harga cabai rawit, telur ayam ras juga mengalami kenaikan menjadi Rp30.000/kg. Analisis menyebutkan bahwa peningkatan ini dipicu oleh tingginya biaya pakan ternak. Sementara itu, harga daging sapi kualitas I sebesar Rp152.500/kg menunjukkan tren stabil di level tinggi, yang dapat menekan konsumsi protein hewani di masyarakat.
Komoditas pangan lain seperti bawang merah Rp37.450/kg, bawang putih Rp39.090/kg, dan berbagai jenis cabai lainnya juga terpantau tinggi. Cabai merah besar dijual Rp57.650/kg, cabai merah keriting Rp70.050/kg, dan cabai rawit hijau Rp68.200/kg, menambah beban pengeluaran rumah tangga.
Harga beras medium I relatif stabil di Rp16.600/kg, namun tetap menjadi komoditas pengendali inflasi yang krusial. Minyak goreng, baik curah maupun kemasan, masih berada di atas harga normal sebelum tahun 2025, yaitu Rp20.400/liter untuk curah dan Rp24.350/liter untuk kemasan I.
Dampak dari lonjakan harga pangan, terutama harga cabai rawit dan telur, sangat signifikan. Inflasi pangan berpotensi meningkat karena kedua komoditas ini merupakan bagian dari konsumsi harian masyarakat.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner juga tertekan dengan menipisnya margin keuntungan, yang berisiko mendorong mereka untuk menaikkan harga jual produk. Pada akhirnya, masyarakat berpenghasilan rendah adalah kelompok yang paling terdampak, terutama dalam akses terhadap protein dan bumbu dapur.





