MOROWALI, NARASITA – PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) merayakan ulang tahun ke-13 pada 03 Oktober 2026, menandai transformasi signifikan di Bahodopi, Morowali. Perkembangan pesat industri melalui hilirisasi nikel telah mengubah lanskap kecamatan kecil ini dari ilalang menjadi pusat ekonomi yang dinamis, dengan gemuruh pabrik peleburan yang tak henti dan jalan beraspal mulus.

Berawal dari kebijakan hilirisasi nikel nasional, IMIP membuktikan bahwa Indonesia mampu mengolah bijih mentah hingga produk jadi. Visi besar IMIP tidak hanya membangun industri mineral yang kokoh, tetapi juga memastikan denyut ekonomi mengalir deras ke masyarakat dan pelaku usaha lokal di sekitar kawasan, menciptakan sinergi antara industri hulu-hilir dengan pengusaha mandiri.

Kawasan IMIP kini memiliki tiga klaster utama yang menggerakkan Bahodopi. Klaster pertama adalah stainless steel, yang fokus mengolah bijih nikel menjadi NPI hingga produk akhir seperti slab, HRC, dan CRC. Klaster ini merupakan salah satu basis produksi nikel dan baja nirkarat terbesar di satu kawasan, menunjukkan komitmen IMIP terhadap hilirisasi nikel secara komprehensif.

Klaster kedua, carbon steel, memproduksi baja karbon untuk memenuhi kebutuhan sektor konstruksi dan perkakas nasional maupun global. Sedangkan klaster ketiga, komponen bahan baku baterai, mengolah bahan baku pendukung ekosistem kendaraan listrik, termasuk elemen katoda dan anoda untuk baterai litium-ion. Selain itu, kawasan ini didukung industri penunjang seperti PLTU, PLTS, pabrik bahan kimia, serta fasilitas pelabuhan dan bandara khusus untuk mendukung operasional hilirisasi nikel.

Pertumbuhan tenaga kerja di Kawasan IMIP sangat masif. Data HR Department PT IMIP menunjukkan, dari 35.592 orang pada tahun 2020, jumlah karyawan mencapai 100.310 orang hingga September 2026, terdiri dari 91.904 karyawan laki-laki dan 8.406 karyawan perempuan. Peningkatan ini menyoroti dampak positif hilirisasi nikel terhadap penciptaan lapangan kerja.

Dengan populasi pekerja yang besar, perputaran uang di Bahodopi diperkirakan mencapai Rp499,1 miliar per bulan atau setara Rp5,9 triliun per tahun pada 2025. Angka ini bukan hanya statistik, melainkan pendorong kebutuhan harian yang menciptakan peluang bagi usaha lokal.

“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang. Riset mencatat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi, antara lain Kios Pertamini (981 unit), Stan Minuman (735), Stan Makanan non-bangunan (670), Kios Umum (648), dan Warung Makan (591). Sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun, namun tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas,” kata Dedy Kurniawan, Head of Media Department PT IMIP, pada Jumat (02/09/2026).

Dampak hilirisasi nikel ini menjadikan Provinsi Sulawesi Tengah tampil menonjol. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, dalam laporan keuangan Provinsi Sulawesi Tengah (Februari 2026), menyebut ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 9,43% (yoy), meningkat dari 7,79% (yoy) pada triwulan sebelumnya.

“Kinerja pertumbuhan ekonomi Sulteng ditopang oleh dominannya peran industri pengolahan berbasis nikel, pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah,” tulis Muhamad Irfan Sukarna dalam laporannya.

Selama tiga belas tahun terakhir, Kawasan IMIP mendedikasikan diri menjadi mitra strategis bagi para pelaku usaha di sekitar industri. IMIP membuka pintu lebar-lebar bagi kontraktor daerah, penyedia logistik, perajin, hingga ratusan pelaku UMKM kuliner dan hunian yang menopang kehidupan puluhan ribu pekerja di kawasan ini, memperkuat ekosistem hilirisasi nikel secara holistik.