JAKARTA, NARASITA – Bakwan, gorengan sederhana berbahan dasar tepung dan sayuran, ternyata memiliki banyak sebutan unik di berbagai daerah di Indonesia. Keberagaman sebutan bakwan ini menjadi cerminan kekayaan budaya kuliner Tanah Air, menunjukkan bagaimana satu jenis makanan bisa beradaptasi dan diberi nama lokal yang khas.
Di Jawa Barat, misalnya, gorengan ini populer dengan nama bala-bala. Nama ini konon diambil dari bentuknya yang tidak beraturan, seperti tumpukan benda yang tidak rapi. Sementara itu, di Surabaya, bakwan dikenal sebagai ote-ote. Nama ote-ote ini memiliki asal-usul yang cukup menarik.
“Sejarah ote-ote di Surabaya itu karena bentuknya bulat-bulat, tapi juga ada yang mengatakan dari bahasa Mandarin ‘o te’ yang artinya kue isi,” kata Chef Wira Hardiyansyah, dikutip dari salah satu media pada 30/09.
Beralih ke daerah lain, di Jawa Tengah, khususnya Solo, beberapa orang mengenalnya dengan sebutan piya-piya. Nama ini memiliki kemiripan dengan nama gorengan lain di daerah tersebut, seperti mendol atau mendoan. Adapun di Malang, Jawa Timur, bakwan juga sering disebut weci.
Keunikan sebutan bakwan ini tidak hanya terbatas pada nama-nama tersebut. Di beberapa daerah lain, variasi nama juga muncul tergantung pada bahan isian atau cara penyajiannya. Di Medan, bakwan kerap disebut pek-pek, meskipun juga sering dipakai untuk jenis gorengan lain.
Perbedaan sebutan bakwan ini menunjukkan betapa dinamisnya bahasa dan budaya kuliner di Indonesia. Meskipun namanya berbeda, esensi dan kenikmatan bakwan tetap sama, menjadikannya camilan favorit banyak orang di seluruh penjuru negeri.





