MAKASSAR, NARASITA – Klub sepak bola kebanggaan Sulawesi, PSM Makassar, harus menghadapi kenyataan pahit menjelang laga perdana Super League musim 2026/27. Tim berjuluk Juku Eja ini terpaksa berlatih di Gowa, yang berjarak sekitar 160 kilometer dari markas mereka di Stadion BJ Habibie, Parepare, karena adanya regulasi baru Super League yang melarang penggunaan stadion pertandingan untuk aktivitas latihan resmi atau official training (OT).

Kondisi ini muncul seiring pemberlakuan aturan Super League yang menyatakan bahwa stadion tidak boleh digunakan untuk aktivitas selain familiarisasi sejak 48 jam sebelum kick-off. Selain itu, regulasi juga menghapus slot OT yang sebelumnya menjadi bagian integral dari persiapan tim. Imbasnya, PSM Makassar harus memutar otak mencari lapangan latihan yang memadai jauh dari kandang mereka.

Pelatih kepala PSM Makassar, Darije Kalezic, menyatakan keberatannya terhadap regulasi tersebut. Ia menyoroti minimnya fasilitas lapangan latihan yang layak di Parepare, sehingga tim harus menempuh perjalanan panjang ke Gowa untuk sesi latihan krusial. Perjalanan sejauh 160 km tentu saja menguras fisik dan mental para pemain Juku Eja.

“Di Parepare tidak ada lapangan yang layak dan memadai untuk melakukan persiapan. Dihapusnya regulasi OT sangat merugikan PSM Makassar,” kata Darije Kalezic, pelatih PSM Makassar.

Regulasi Super League kini hanya mengizinkan familiarisasi stadion H-1 pertandingan dengan durasi maksimal 30 menit dan tanpa menggunakan sepatu bola. Hal ini tentu membatasi persiapan teknis tim dan menyulitkan adaptasi pemain dengan kondisi lapangan jelang pertandingan. Bagi PSM Makassar, situasi ini menjadi tantangan besar yang harus diatasi untuk menjaga performa di liga.

Tantangan ini memaksa Kalezic mencari solusi kreatif untuk menjaga semangat dan persiapan tim tetap optimal. Meskipun persiapan fisik dan taktik tim terganggu akibat jarak tempuh latihan yang jauh, PSM Makassar berkomitmen untuk tetap kompetitif di Super League. Regulasi OT ini pun menuai kontroversi, khususnya bagi klub-klub yang berlokasi di daerah dengan fasilitas penunjang sepak bola yang terbatas.