SELAT SUNDA, NARASITA – Lima jurnalis dari berbagai media nasional dan tiga kru lapangan dilaporkan 5 jurnalis hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Insiden hilangnya 5 jurnalis hilang ini terjadi di sekitar perairan dan daratan dekat Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, dan memasuki hari kedua pencarian pada Rabu, 09/09.
Diduga, hilangnya para peliput ini akibat kondisi ekstrem erupsi, abu vulkanik tebal, serta cuaca buruk yang mengganggu komunikasi. Tim jurnalis dan kru berangkat menggunakan kapal kecil, namun sejak Selasa sore tidak ada kontak. Pencarian para jurnalis yang hilang kini diperluas oleh tim gabungan Basarnas, TNI AL, dan Polairud.
Area pencarian diperluas hingga radius 15 mil laut dari lokasi terakhir kontak, berupaya menemukan 5 jurnalis hilang dan kru lainnya. Kondisi lapangan yang sulit dengan abu vulkanik tebal dan jarak pandang terbatas menjadi tantangan utama bagi tim. Gelombang tinggi juga menghambat pergerakan kapal pencari di perairan Selat Sunda.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berstatus Siaga (Level III) dan terus menunjukkan aktivitas erupsi berulang sejak awal September. Ketinggian kolom abu vulkanik dilaporkan mencapai 2.000 hingga 3.000 meter. Kondisi ini membuat komunikasi radio dan sinyal telepon terganggu, serta meningkatkan risiko bagi kapal-kapal kecil di sekitar lokasi.
Pihak Basarnas menyatakan bahwa seluruh sumber daya dikerahkan untuk menemukan 5 jurnalis hilang tersebut. “Hari kedua pencarian, tim gabungan memperluas area hingga radius 15 mil laut,” kata perwakilan Basarnas.
Keluarga para korban menanti dengan cemas kabar dari tim pencari. Komunitas jurnalis juga menyerukan doa dan solidaritas untuk rekan-rekan mereka yang kini dalam situasi darurat. Hilangnya 5 jurnalis hilang ini kembali menyoroti risiko besar yang dihadapi oleh para jurnalis dalam meliput bencana alam.
“Cuaca ekstrem dan abu vulkanik tebal menjadi tantangan utama,” kata perwakilan TNI AL, menjelaskan kesulitan yang dihadapi dalam operasi pencarian.
Insiden ini juga menjadi momentum refleksi bagi dunia media terkait perlindungan dan keselamatan jurnalis di lapangan, terutama saat meliput bencana vulkanik yang tidak dapat diprediksi.





