JAKARTA, NARASITA – Meskipun telah tersingkir dari kualifikasi FIFA ASEAN Cup 2026 tanpa perolehan poin, peluang Bangladesh untuk mempengaruhi hasil grup masih sangat besar. Situasi ini menjadi krusial, terutama bagi Timnas Indonesia dan Malaysia yang kini sama-sama mengoleksi empat poin dalam klasemen.

Kiprah Bangladesh di dasar klasemen dengan nol poin secara matematis memang sudah tidak memiliki kesempatan untuk melaju. Namun, pertandingan sisa yang akan mereka jalani dapat menjadi faktor penentu nasib bagi tim lain, khususnya dalam perebutan tiket ke babak selanjutnya. Peluang Bangladesh untuk menjadi ‘penjegal’ atau ‘pembuka jalan’ patut diwaspadai.

Muncul spekulasi apakah Bangladesh akan bermain habis-habisan untuk sekadar menjaga harga diri, atau justru secara tidak langsung akan membuka jalan bagi Malaysia. Hubungan antara Bangladesh dan Malaysia diketahui cukup erat, melampaui sekadar ranah sepak bola. Malaysia merupakan salah satu tujuan utama pekerja migran dari Bangladesh.

Jumlah pekerja Bangladesh di Malaysia diperkirakan mencapai ratusan ribu, bahkan beberapa laporan menyebutkan angkanya bisa mencapai 800 ribu hingga 1 juta orang. Kedekatan ini bahkan memunculkan istilah ‘Malaydesh’ di kalangan warganet, menggambarkan kuatnya komunitas Bangladesh di negara tersebut. Faktor-faktor non-teknis ini menambah dimensi menarik pada peluang Bangladesh di pertandingan sisa.

Meskipun demikian, profesionalisme dalam pertandingan sepak bola seharusnya menjadi prioritas utama. Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah faktor-faktor tersebut akan memengaruhi performa Bangladesh di lapangan. Timnas Indonesia wajib meningkatkan kewaspadaan dan tidak meremehkan setiap peluang Bangladesh, baik sebagai lawan maupun penentu tidak langsung.