PALU, NARASITA – Polda Sulawesi Tengah mencatat sebanyak 45 laporan kejadian Karhutla Sulteng dengan total luas terdampak mencapai 528 hektare selama pekan pertama Operasi Aman Tinombala 2026.
Data tersebut merupakan hasil rekapitulasi periode 28/10 hingga 03/11 yang dibahas dalam Analisis dan Evaluasi Minggu I di Posko Operasi Aman Tinombala, Mapolda Sulteng, pada 04/11.
Anev dipimpin Kasetops AKBP Rahmat Lubis guna memantau perkembangan situasi sekaligus mengevaluasi efektivitas penanganan Karhutla Sulteng di wilayah Sulawesi Tengah.
“Evaluasi menjadi langkah penting untuk memastikan penanganan Karhutla Sulteng berjalan terarah dan terkoordinasi,” kata Rahmat Lubis, Kasetops Aman Tinombala 2026 Polda Sulteng.
Ia mengingatkan seluruh jajaran agar meningkatkan deteksi dini, pemantauan wilayah rawan, serta memperkuat koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana terkait pelaporan kejadian.
“Berdasarkan hasil evaluasi, Kabupaten Poso menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar, yakni 260 hektare dari 11 laporan,” jelas Rahmat Lubis, Kasetops Aman Tinombala 2026 Polda Sulteng.
Ia menambahkan, wilayah Banggai Kepulauan menyusul seluas 167,2 hektare dari enam laporan serta Morowali seluas 39,3 hektare dari 11 laporan.
Sementara itu, laporan Karhutla Sulteng lainnya tersebar di Sigi, Buol, Tojo Una-Una, Banggai, Morowali Utara, Parigi Moutong, Donggala dan Tolitoli, sedangkan Kota Palu dan Banggai Laut nihil.
Sebagai tindak lanjut, Polda Sulteng akan meningkatkan patroli, monitoring, deteksi dini, dan sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah meluasnya Karhutla Sulteng.
“Kami mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan jika menemukan titik api,” ujar Achmad Muhaimin, Kabidhumas Polda Sulteng.
Ia menegaskan bahwa pencegahan Karhutla Sulteng sangat membutuhkan peran aktif dari semua pihak agar dampaknya tidak semakin meluas di daerah tersebut.








